MANADO — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado mendeteksi adanya penurunan kualitas udara selama puncak musim kemarau yang berlangsung sejak Agustus hingga akhir September 2026.
Penurunan kualitas udara tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), peningkatan debu akibat angin kencang, serta polutan yang berasal dari kendaraan bermotor.
Kepala Bidang Pengendalian, Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Manado, Leon Piri, mengatakan kondisi kemarau membuat paparan asap dan partikel debu lebih mudah memengaruhi kualitas udara.
“Imbas semakin maraknya kejadian karhutla, menyebabkan paparan asap di ruang udara Kota Manado semakin pekat,” ujar Leon saat ditemui, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, kombinasi asap, debu, dan polutan menjadi faktor yang dapat menurunkan kualitas udara, terutama ketika curah hujan rendah disertai angin kencang.
“Asap-asap yang dihasilkan ini berpengaruh. Tentu kualitas udara dia akan menurun ketika ada kebakaran hutan dan lahan, ada partikel-partikel debu, polutan yang masih tertinggal di atas,” katanya.
DLH Terus Pantau Kualitas Udara
Leon menjelaskan, DLH Kota Manado secara berkala melakukan pemantauan kualitas udara melalui pengambilan sampel di sejumlah lokasi dengan karakteristik berbeda.
Pemantauan dilakukan di kawasan industri, perkantoran, jalur transportasi, hingga permukiman. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi kualitas udara pada berbagai lingkungan aktivitas masyarakat.
Berdasarkan hasil pengukuran pada semester pertama 2026, kualitas udara yang terpantau masih berada di bawah baku mutu.
Namun, kondisi tersebut dapat berubah ketika terjadi peningkatan aktivitas yang menghasilkan polutan, terutama pembakaran sampah secara terbuka dan pembukaan lahan dengan cara dibakar.
DLH karena itu mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan, terutama selama kondisi kemarau.
“Kami imbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, apalagi membakar untuk membuka lahan. Karena tentu kegiatan-kegiatan ini akan berpengaruh pada kualitas udara di kota yang kita cintai bersama ini,” ujar Leon.
Selain mencegah aktivitas pembakaran terbuka, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga diimbau menggunakan masker. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi paparan asap, debu, dan partikel polutan yang berada di udara.
DLH Manado mengingatkan bahwa pengendalian kualitas udara membutuhkan partisipasi masyarakat, terutama dalam mengurangi aktivitas yang berpotensi menghasilkan asap dan polusi selama musim kemarau.
(Welly)














