BITUNG — Pagi itu, Sabtu (17/10/2026), antrean sepeda motor dan mobil mengular di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di Kota Bitung. Mesin dimatikan, helm masih bertengger di kepala. Sebagian pengendara duduk di trotoar, sebagian lagi berdiri memandang selang nozzle yang tak kunjung giliran.
Di tengah antrean yang menguji kesabaran itu, seorang perwira dengan seragam cokelat turun dari kendaraan dinas. Ia bukan untuk memeriksa, melainkan menyapa. Kapolres Bitung AKBP Arie Sulistyo Nugroho berjalan dari satu pengendara ke pengendara lain, memastikan arus tetap mengalir, lalu menyodorkan botol air mineral.
“Minum dulu, Pak. Sabar mengantre, ya,” ucapnya pelan.
Pemandangan itu mengubah suasana SPBU. Antrean yang tadinya senyap dan tegang, menjadi sedikit lebih cair. Warga yang semula mengeluh karena harus menunggu lama, membalas dengan anggukan dan senyum.
Kegiatan monitoring yang dilakukan Polres Bitung pagi itu bukan tanpa alasan. Sepekan terakhir, isu kelangkaan dan antrean Pertalite menjadi perhatian di Sulawesi Utara. Kapolda Sulut bahkan telah menggelar pertemuan dengan pihak Pertamina untuk memastikan stok dan distribusi BBM subsidi tetap terjaga untuk masyarakat.
Instruksi itu kemudian diterjemahkan di lapangan oleh Polres Bitung: hadir, memantau, dan memastikan penyaluran berjalan tertib.
AKBP Arie tidak hanya melihat antrean sebagai soal lalu lintas. Bagi dia, SPBU adalah ruang sosial di mana kecemasan warga bertemu dengan keterbatasan pasokan. Jika tidak dikelola, antrean bisa berubah menjadi kerumunan, kerumunan bisa menjadi gesekan.
“Kami ingin memastikan masyarakat tetap tertib saat mengantre dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Kami akan terus melakukan pemantauan serta berkoordinasi dengan pihak terkait guna menjaga situasi tetap aman dan kondusif,” kata Arie di sela pemantauan.
Yang menarik, pendekatan yang dipilih bukan sekadar penjagaan. Pembagian air mineral itu mungkin terlihat kecil. Namun dalam konteks pelayanan publik, gestur semacam itu justru yang paling diingat warga. Ia menegaskan bahwa tugas polisi tidak berhenti pada pengamanan fisik, melainkan juga pada perawatan rasa: rasa aman, rasa dihargai, dan rasa bahwa negara hadir saat warga menunggu.
Di satu SPBU, seorang bapak paruh baya mengaku sudah mengantre hampir satu jam. “Panas memang, tapi tidak apa-apa. Tadi dikasih air sama Pak Kapolres. Lumayan,” katanya sambil tertawa kecil.
Sinergi, itulah kata yang berulang kali ditekankan Kapolres. Kelancaran BBM subsidi tidak bisa dibebankan pada satu pihak. Butuh kerja sama Pertamina sebagai penyalur, pengelola SPBU sebagai pelaksana, kepolisian sebagai penjaga ketertiban, dan masyarakat sebagai pengguna yang membeli sesuai kebutuhan.
Hingga siang, antrean di sejumlah SPBU di Bitung masih ada, namun mengalir. Tidak ada klakson panjang, tidak ada adu mulut berebut antrean. Petugas mengatur kendaraan yang keluar-masuk, warga bergantian maju dengan tertib.
Di tengah isu energi yang kerap memicu kegelisahan, kehadiran polisi yang menyodorkan air mineral mungkin bukan solusi atas antrean. Tapi ia adalah pengingat bahwa pelayanan humanis kadang justru lahir dari hal-hal paling sederhana: hadir di lapangan, mendengarkan, dan peduli.
(***)














